Sidoarjo, jejakjurnalis.com,- Ngopi Bareng menjadi ruang komunikasi serta dialog terbuka tentang Sosial, Budaya dan Kebangsaan warga Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, yang digelar pada hari Sabtu (30/8/2025).
Kegiatan ngaji interaktif Ngopi Bareng digelar mulai pukul 19.30 - 23.00 WIB, dihadiri Kepala Desa Cemandi Rusilah bersama perangkat desa, Pimpinan PP Ma'had Nurul Qur'an Alqolam Kyai Ali Misbahul Munir, dan tokoh muda Ansor Sidoarjo Gus Sahal Asrori.
Hadir pula Ketua PC Lesbumi Gus Ahmad Anis Fahmi, motivator spiritual nasional Ustadz Ashabul Kaaffi, Ketua organisasi AWOS, Warsono bersama Sekretaris Babe Teguh serta ratusan warga Desa Cemandi.
Konsep NGOPI BARENG yaitu Ngolah Gagasan, Obrolan, dan Pikiran Inspiratif yang membawa Budaya, Asah Rasa, Erat, Niat serta Guyub menjadi inti kegiatan ini. Kopi tidak hanya dinikmati sebagai minuman, melainkan juga simbol ruang diskusi yang cair.

Di tempat itu, warga dari berbagai latar belakang duduk bersama, bertukar pikiran dan pandangan tanpa sekat, bicara sosial, kebutuhan hidup, pendidikan anak, hingga persoalan lingkungan.
Sebagai penggagas acara, Gus Sahal menekankan pentingnya kebersamaan. Ia menyoroti maraknya kenakalan remaja, khususnya gangster pelajar, yang harus menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, orang tua tidak boleh lengah terhadap pergaulan anak, sebab masa depan bangsa ditentukan dari kepedulian terhadap generasi muda.
Sementara Kepala Desa Cemandi Rusilah menyampaikan apresiasi luar biasa atas terselenggaranya acara NGOPI BARENG ini. Ia menegaskan pentingnya aturan jam malam bagi pelajar hingga pukul 21.00 WIB sebagai bentuk perhatian Pemerintah Desa Cemandi untuk melindungi warganya.
"Kebijakan jam malam diharapkan mampu menjaga arah perkembangan generasi muda agar tetap terarah dan tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PC Lesbumi, Gus Ahmad Anis Fahmi, menekankan bahwa budaya adalah simbol peradaban. Ia mengajak generasi muda melestarikan warisan budaya Islam sebagai pijakan menghadapi tantangan modern.
"Agama dan budaya tidak bisa dipisahkan karena keduanya menjadi pilar kebangsaan yang saling menguatkan," tuturnya.
Sementara itu Kyai Ali Misbahul Munir dalam ceramahnya, mengupas makna tersirat DRAKOR, yakni Doa, Rohmad, Amanah, Komunikasi, Optimis, Riyadho, dalam membangun landasan kebangsaan.
Ulama Pimpinan PP Ma'had Nurul Qur'an Alqolam menegaskan bahwa doa adalah fondasi utama. Kyai mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa mendoakan Indonesia dan para pemimpin bangsa agar rakyatnya selalu hidup adem ayem, tenteram, makmur, dan sejahtera.
Sedangkan Rohmad dimaknainya sebagai kasih sayang antar sesama, dan Amanah adalah kejujuran serta tanggung jawab dalam menjalankan peran. Kemudian Komunikasi harus dijaga agar tidak menimbulkan salah paham.
Sementara Optimis menjadi pegangan menghadapi tantangan zaman. Adapun Riyadho dimaknainya sebagai latihan kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.
Motivator spiritual nasional, Ustadz Ashabul Kaaffi menegaskan pentingnya mengisi kemerdekaan dengan karya dan pengabdian. Ia juga mengajak masyarakat untuk mensyukuri, mengisi, dan menjaga kemerdekaan Indonesia.
"Saya mengingatkan arti pentingnya bijak dalam menggunakan media sosial agar tidak terjebak pada konten negatif yang merusak persatuan," ungkapnya.
Ketua AWOS, Warsono, memperkenalkan program Lentera yang digagas bersama Dinas Pendidikan dan Polresta Sidoarjo. Program ini menyasar generasi muda dengan fokus pada literasi, anti-bullying, pencegahan narkoba, dan disiplin lalu lintas.
Baca juga: Ruwatan dan Tirakatan Bagi Ketentraman dan Kedamaian Sidoarjo
"Pendidikan karakter sejak dini merupakan benteng utama untuk menjaga kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi," ujar Warsono.
Acara ditutup dengan doa khidmat oleh Kyai Ali Misbahul Munir. Ngaji Ngopi Bareng telah membuktikan bahwasanya kebangsaan tidak lahir dari upacara dan simbol negara saja, tetapi juga dari ruang kecil tempat dialog berlangsung.
Dari obrolan sederhana, Ngopi Bareng menjadi gerakan kultural yang dapat menumbuhkan semangat persatuan, persaudaraan, cinta tanah air, menjadi jembatan gagasan besar masyarakat demi Indonesia yang makmur, damai dan bersatu.
Babe, Endri P