WONOSOBO, JAWA TENGAH, Jejakjurnalis.com – Dari Buku Manual ke Aplikasi Digital, suasana basecamp Pendakian Gunung Sindoro via Sigedang kini terasa berbeda. Gemericik air dan desau angin di lereng gunung tak lagi diselingi suara riuh antrean pendaki dan coretan pulpen di atas kertas registrasi.(28/11/2025)
Sejak 22 November 2025, sebuah transformasi digital telah mengubah wajah basecamp ini. Registrasi manual yang rentan error dan memakan waktu, resmi digantikan oleh sistem registrasi full online melalui Aplikasi Tiket Pendakian.

JejakJurnalis.com berkesempatan menyaksikan langsung momen transisi bersejarah ini. Di bawah plang “Registrasi Pendakian Gunung Sindoro via Sigedang”, para petugas dengan antusias memegang tablet, didampingi tim teknis. Ada proses belajar yang terlihat—dari yang awalnya canggung, kini mereka telah lihai menginput data, memverifikasi, dan mencetak tiket dalam hitungan menit. “Awalnya memang butuh adaptasi, tapi sekarang jauh lebih efisien. Data tidak lagi hilang atau berantakan,” ujar salah satu petugas, Sumarto, kepada tim JejakJurnalis.
Filosofi di Balik Layar: Menyelamatkan Nyawa dan Menjaga Rimba
Bagi pengelola, digitalisasi ini bukan sekadar gimmick teknologi. Ini adalah soal nyawa. Dengan adanya database pendaki yang real-time, pintu gerbang keselamatan terbuka lebih lebar. Setiap pendaki yang mendaftar telah menyetujui “kontrak tidak tertulis” untuk bertanggung jawab pada jadwalnya sendiri. Sistem ini menjadi pengingat halus bahwa gunung adalah alam bebas yang penuh bahaya, dan kedisiplinan adalah tameng terbaik.
Di sisi lain, filosofi konservasi juga menjadi napas dalam kebijakan ini. JejakJurnalis mencatat, sampah yang dihasilkan dari proses administrasi manual—formulir, karbon, map plastik—kini hampir nol. Ini adalah bentuk cinta yang nyata pada Sindoro. Dengan mengurangi jejak administratif, kita memberi ruang lebih luas bagi alam untuk bernafas. Petugas yang biasanya sibuk dengan administrasi, kini dapat lebih fokus mengedukasi pendaki tentang prinsip Leave No Trace, menjaga kebersihan jalur, dan pentingnya melestarikan flora-fauna endemik Sindoro.
Baca juga;
Gunung Buthak dan Panderman Dibuka, Etika Jadi Prioritas
Inspirasi bagi Gerbang Wisata Alam Nusantara
Kisah sukses Sigedang adalah bukti bahwa perubahan besar berawal dari langkah kecil yang konsisten. Basecamp yang dulu mungkin hanya dianggap sebagai pos administratif, kini menjadi garda terdepan dalam gerakan wisata berkelanjutan.
Sudah saatnya basecamp lain, seperti yang ada di Gunung Semeru, Rinjani, atau Kerinci, mencontoh inovasi ini. Karena menjaga alam tidak cukup hanya dengan slogan, tetapi perlu aksi nyata yang terukur dan terdigitalisasi.













